|
Building Resilince adalah membangun kapasitas, membangun daya kenyal, membangun daya tanggap masyarakat, membangun kesiagaan menghadapi kemungkinan-kemungkinan. Membangun kesiagaan masyarakat harus menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan berdasarkan teori-teori (dari bumi) dan pendekatan berdasarkan firman/sabda (dari atas). Pendekatan menggunakan teori-teori ini mudah dipahami tetapi juga dalam fakta yang terjadi akhir-akhir ini ada banyak hal yang tidak bisa dipahami. Menurut para ilmuwan seharusnya jalur ini tidak terkena gempa bumi, disebutkan inilah jalur gempa bumi dan ini tidak termasuk, ternyata tidak. Dalam perkembangan sekarang, misalnya minggu lalu selama enam hari berturut-turut kurang lebih itu, gempa bumi yang termasuk wilayah yang oleh para ilmuwan dikategorikan sebagai wilayah gempa bumi dengan sekala lima koma.
Oleh karena itu saya berharap didalam proses membahas ini, didalam proses refleksi, didalam proses sharing ini dua pendekatan harus digunakan. Pendekatan dari atas bawah kebenaran ini (hati) tidak bisa dipahami dengan otak.“ pake otak untuk menganalisis resiko tidak akan ketemu. Demikian dikatakan Bupati Flores Timur Drs Simon Hayon saat meluncurkan program Building Resilience bertempat di aula kantor camat Ile Bura Rabu, (09/12). Hadir juga dalam acara peluncuran program Building Resilience tersebut , Anggota DPRD Kabupaten Flores Timur Ignasius Boli Uran,S.Fil, Jajaran Muspika, Kepala Badan Pemberdayaan masyarakat Aloysius Ola Sony, Direktur YPPS Melkior Koli Baran, direktur Flores Institute For Resources Development (For) Rony So, Camat Ile Bura Yosep Tua Dolu, SP para Kepala Desa se Kecamatan Ile Bura, Lurah Lamatewelu Kecamatan Ile Boleng dan kepala desa Bunga Lawan Kecamatan Adonara Timur, Tokoh agama, LSM, tokoh masyarakat dari kecamatan Mapitara dan Derong Kabupaten Sikka beserta 40 peserta lainnya yang mengikuti program peluncuran Building Resilience dan seminar analisis resiko dalam pembangunan tersebut. Bupati Simon mengharapkan agar dalam Building Resilience dan analisis resiko dalam pembangunan yang mengambil sample gunung lewo Tobi untuk kecamatan Ile Bura, gunung Ile Boleng untuk Kelurahan Lamatwelu, kecamatan Ile Boleng dan Desa Bunga Lawan Kecamatan Adonara Timur serta Gunung Egon untuk Kecamatan Mapitra dan Doreng Kabupaten Sikka harus menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan dari bumi dan pendekatan dari yang diatas. Bupati Simon juga mengharapkan agar peluncuran program Building Resilience harus direfleksikan secara terus menerus. Peluncuran program Building Resilience terselenggara berkat kerja sama Oxfam GB-YPPS dengan pemerintah Kecamatan Ile Bura, demikian Yohanes Suban Kleden direktur program YPPS sekaligus sekretaris panitia pelaksanaan peluncuran program Building Resilience dalam laporannya. Ia juga mengatakan bahwa Flores Timur dan Sikka memiliki sejumlah ancaman bagi kelangsungan hidup penduduknya termasuk ancaman alam (bencana alam) seperti gunung berapi, banjir, kekeringan, longsor, dan KLB lainnya. Agar ancaman alam dapat menjadi salah satu media belajar bersama masyarakat dan para pihak, maka YPPS melalui pertimbangan praktis dan strategis memilih gunung api Lewo tobi (laki-laki dan perempuan) dan Gunung Api Ile Boleng sebagai media belajar. Menurutnya dalam proses belajar inilah, berbagai pihak sama-sama melakukan analisis kapasitas, kerentanan, ancaman dan resiko untuk selanjutnya sama-sama membangun ketahann hidup bersama sebagai komunitas masyarakat. Dikatakannya pula bahwa sejumlah proses belajar bersama akan dilakukan di level pemerintah kabupaten dan para pihak, organisasi masyarakat sipil didesa-desa sasaran tentang bagaimana mengurangi resiko bencana di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka, termasuk sama-sama mempertimbangkan kebijakan-kebijakan mana yang perlu difasilitasi bersaama sehingga ketangguhan masyarakat terus di perkuat melalui proses lapangan di desa maupun penguatan paradigma di level pemerintahuntuk mempertimbangkan kebijakan pendukung. Peluncuran Program Building Resilience tersebut dilanjutkan seminar dengan nara sumber Rony So direktur Institute For Resources development (FORD) dengan tema Analisis Resiko dalam Pembangunan dan Pembangunan Berparadigma Budaya Penguatan kapasitas Masyarakat lokal yang di bawahkan oleh Sucipto, M.Si dari Bappeda Kabupaten Flores Timur. (Humas) |
|