|
HARI ANAK NASIONAL: MOMENTUM AWAL UNTUK KEPENTINGAN HAK ANAK “ Saya Anak Indonesia Kreatif,Inovatif dan Unggul dalam menghadapi Tantangan Masa Depan” Demikianlah Tema Sentral Perayaan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tahun tanggal 23 Juli 2009.Secara Khusus di Kabupaten Flores Timur Hari anak Nasional digelar begitu semarak dengan melibatkan Pemerintah, Masyarakat,Orang Tua, Lembaga Swadaya Masyarakat WFI dan Forum Komunikasi Peduli Anak Kabupaten Flores Timur.Berbagai Kegiatan yang digelar dari tanggal 21 Juli 2009 dan berakhir pada hari puncak 23 Juli dengan aneka kegiatan antara lain Gebyar Mewarnai,Lomba Volly, Sepak Bola, Tarik tambang,Jalan Santai,Rally sepeda, Penyuluhan dan Panggung kreatif anak serta Dialog Interaktif dengan Bupati Flores Timur yang dilangsungkan di Aula setda Flores Timur belum lama ini.
Diawal acara dialog Interaktif yang dimediasi oleh WFI dan Forum Komunikasi peduli anak Kabupaten Flores Timur, Ketua Panitia dalam laporannya mengatakan bahwa Hari anak merupakan momentum awal untuk kepentingan hak anak. Adanya peringatan hari anak Nasional mau menunjukan bahwa masih ada kepedulian terhadap anak-anak.Oleh karenanya berbagai upaya harus dilakukan demi terpenuhinya hak-hak anak dan perlindungan anak, Untuk mecapai ini,lanjut Ketua Panitia masih banyak yang harus dilakukan dan masih banyak yang ditemui hak-hak anak seperti hak anak memperoleh identitas, hak untuk mendapatkan pengasuhan, hak untuk mendapatkan layanan kesehatan, hak mendapatkan pendidikan,serta perlakuan khusus dari kekerasan dan diskriminasi. Untuk itu peringatan hari anak bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian serta peran aktif orang tua, Masyarakat, Pemerintah, lembaga Agama, Lembaga Pendidikan dan lembaga kemasyarakatan demi terpenuhinya hak anak. Dalam kesempatan tersebut juga dipaparkan sejumlah persoalan yang dilakukan oleh orang tua, masyarakat dan juga para pendidik terkait perilaku kekerasan terhadap anak berdasarkan hasil Survei dari WFi dan Polres Flores Timur yang disampaikan oleh ibu Erna. Terkait dengan itu Bupati Flores Timur Drs.Simon hayon dalam sambutannya mengatakan bahwa tindakan kekerasan dan perilaku diskriminatif sebagaimana yang dipaparkan masalah pokoknya adalah relasi antar manusia, hubungan antar manusia sudah sampai pada tataran kebendaan.Maksudnya jelas Bupati simon antara yang seoran dengan seorang yanglain saling mengukur dengan unsure kebendaan atau materi yang dipakai untuk mengukur orang lain, keluhuran martabat sebagai manusia yang diciptakan secitra dengannya tidak lagi dihormati. Bupati simon dihadapan para peserta dialog mengaharapkan agar semua orang dapat membedakan mana tindakan kekerasan yang dikategorikan dalam kerangka mendidik dan mana yang dikategorikan kekerasan yang menimbulkan sakit atau luka dan mengarah pada masalah HAM.,Jika semua kekerasan seperti mendidik juga dikategorikan pada kekerasan yang mengarah pada persoalan HAM maka semua menjadi kacau. Bupati Simon meminta kepada semua masyarakat Flores Timur agar jangan latah dalam hal ini. Lebih lanjut Bupati Simon menghimbau agar dalam upaya menemukan identitas termasuk anak, maka proses menumbuhkan anak harus dalam lingkungan budaya sendiri, anak lebih dahulu diperkenalkan tentang kebudayaan sendiri barulah kemudian mengenal budaya yang datang dari luar, tandas bupati Simon. Terkait dengan system pendidikan bupati simon juga mengharapkan agar pendidikan terhadap anak bukan sepenuhnya diserahkan pada sekolah.Tetapi pendidikan yang utama adalah keluarga diikuti lingkungan masyarakat serta sekolah. (Servo Tukan) |
|